Tiga Jurus Datascrip Mendongrak Bisnis Solusi Sistem Keamanan

Tren bisnis solusi sistem keamanan (security system) belum menunjukkan penjualan yang signifikan. Meski aktifitas bisnis dan industri terus berkembang, kesadaran untuk menggunakan alat keamanan yang terintegrasi justru masih kurang. Walhasil, lahan bisnis yang masih besar itu banyak diperebutkan oleh produsen ataupun distributor di Indonesia. Salah satunya, PT Datascrip yang menerapkan 3 jurus guna mendongkrak penetrasi industri dan bisnisnya. Apa saja?.

Yenni Surhartanto, Marketing Manager Datascrip (dua dari kiri)

Pertama, edukasi melalui seminar dan roadshow. Sebagai perusahaan pemasaran dan distribusi, Datascrip tidak hanya ingin dikenal sebagai penjual, tetapi juga sebagai konsultan untuk konsumennya. Misalnya, mengundang beberapa perwakilan dari korporat dari berbagai industri, pemerintahan, serta mengundang langsung pakar dan perwakilan dari produsen alat tersebut. .“Roadshow-nya sering. Bahkan setiap tahun kami selalu adakan pertemuan untuk update teknologi keamanan seperti hari ini (10/4/13)” ujar Yenni Surhartanto, Marketing Manager Datascrip.

Yenni berpendapat, kesadaran masyarakat khususnya kalangan korporat untuk menggunakan alat sistem keamanan masih sangat rendah. Tingkat kesadaraan itu akan berdampak pada penetrasi atau penjualan alat-alat keamanan. “Indonesia masih belum mature. Berbeda dengan di Inggris yang di setiap sudut kota atau gedung ada sistem keamanan. Di sinilah peran kami untuk mengedukasi pasar,” Yenni menambahkan.

Jurus kedua adalah memaksimalkan saluran (channel) penjualan. Menurut Yenni, saat ini pihaknya memiliki tiga saluran penjualan, yakni melalui penjualan langsung (direct selling), reseller dan kantor cabang. Jumlah reseller Datascrip mencapai lebih dari 50 orang. Dengan begitu, permintaan dari seluruh Indonesia dapat terpenuhi.

Kontribusi terbesar penjualan produk-produk sistem keamanan masih disumbangkan dari Jakarta yang mencapai 30%, sisanya dari Surabaya, Balikpapan, dan kota-kota besar lainnya. Untuk produk tertentu, seperti sidik jadi (fingerprint), penjualan berasal dari retail, pemerintahan dan korporat swasta. “Untuk meninggatkan penjualan, kami juga harus sering ikut tender” ujar Yenni.

Sementara itu, Prof Dr Richardus Eko Indrajit Ketua Assosasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM), mengatakan, penjualan alat-alat sistem keamanan hingga saat masih diserap oleh tiga industri besar yakni perbankan, minyak dan gas, serta telekomunikasi. Di dunia perbankan misalnya, sistem keamanan menjadi hal mutlak demi menjaga kenyamanan dan keamanan nasabah. Sedangkan di telekomunikasi, sistem keamanan digunakan untuk menjaga data pelanggan. “Mereka adalah industri yang cukup potensial untuk bisnis ini. Ke depannya, industri retail akan menyusul,” jelas Profesor.

Jurus yang tidak kalah penting adalah menjual produk-produk berkualitas dan termutakhir. Misalnya, belum lama ini Datascrip memperkenalkan tiga produk jagoannya yakni Secure SM-505, Orthos Personal Interlock dari KABA dan 3VR.

Secure SM-505

Secure SM-505 adalah fingerprint dengan teknologi terkini yang bisa menjadi solusi untuk sitem manajemen waktu dan keamanan perusahaan. Produk ini dibekali dengan kamera 1,3 Mp dan layar sentuh LCD TFT 3.5” menjadikan mesin ini lebih interaktif. Alat ini sanggup mendeteksi sidik jari palsu yang tidak dapat dilakukan oleh mesin fingerprint biasa. Untuk bisnis alat-alat semacam ini, Datascrip telah menjual 200 unit setiap tahun di mana target utamanya adalah retail. Harga produk sidik jari umumnya dibanderol lebih dari Rp 10 juta per unit. “Yang pasti tidak seperti fingerprint asal China yang bisa dipalsukan. Kami menjual produk yang benar-benar bisa menjaga keamanan,” klaim Yenni.

Mesin sidik jari Secure SM-504 tidak hanya handal dalam menjaga keamanan ruang kantor, namun juga memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Teknologi patented search algorith yang tertanam memiliki kecepatan dan akurasi yang tinggi dalam melakukan proses sidik jari. Kecepatan deteksi mesin ini bisa mencapai kurang dari 0.5 detik sehingga dapat menghindarkan terjadinya antrian panjang.

Alat ini juga dapat dikelola dengan mudah melalui PC atau server dengan adanya software pendukung yang lengkap. Selain itu, fingerprint ini sangat praktis karena dilengkapi dengan serial port yang dapat langsung dihubungan dengan printer thermalsehingga pengguna menjadi lebih mudah dan cepat untuk membuat laporan.

Orthos Personal Interlock didesain berbentuk pintu putar yang terinetgrasi sistem keamanan dengan teknologi mutakhir dari Jerman. Produk ini menggunakan kaca anti peluru dan anti maling sehingga produk ini cocok digunakan di tempat yang memerlukan tingkat keamanan yang tinggi. Target konsumen produk ini adalah korporat dan pemerintahan.

Keunikan produk ini ialah hanya bisa dimasuki satu arah. Keamanan akses melalui Orthos Personal Interlock diperkuat dengan adanya dua kali verifikasi. Hal ini untuk menjamin hanya orang yang memang berhak masuk melalui pintu tersebutlah yang bisa mengakses ke daerah sensitif. Verifikasi otoritas dapat dilakukan dengan berbagai kombinasi. Mulai dari kartu, pin, sidik jari, mata hingga berat badan. Harga yang ditawarkan mencapai lebih dari Rp 100 juta per unit.

Sedangkan 3VR adalah salah satu brand terbama asal negeri Paman Sam, Amerika Serikat, yang mempelopori teknologi face seaching di dunia CCTV. Yenni menilai, bila saat ini merek CCTV yang ada di pasar hanya mampu melakukan pengenalan wajah dengan menampilkan identitas, akan tetapi fitur face searching yang dimiliki oleh 3VR dapat melakukan pencarian wajah seseorang di kerumunan massa yang terekam dalam kumpulan rekaman video. Kehadiran 3VR diharapkan mampu memberikan nuansa berbeda dan memberikan gairah pada pasar video recording khususnya untuk bidang keamanan.

“Dengan kecanggihan dari software yang ada dan logika dari alogritma pengenalan wajah yang dikembangkan lebih maju, menjadikan software ini lebih maju dibandingkan dengan kompetitor lainnya. Selain itu, diharapkan dengan kehadiran 3VR di Indonesia dapat semakin meningkatkan rasa waspada serta menambah rasa aman mengingat dewasa ini tingkat kejahatan dalam taraf yang mengkhawatirkan,” tutur Yenni.

Dengan menerapkan tiga strategi itu, Yenni berharap, bisnis ini bisa tumbuh pesat ke depannya. Apalagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mulai membaik akan berdampak pada geliat bisnis yang nantinya akan membutuhkan sistem keamanan yang canggih dan terintegrasi. (EVA)